Kamis, 30 September 2010

VoIP dalam Jaringan NAT


Beberapa waktu yang lalu, ada pelanggan kantor saya yang berniat membangun jaringan VoIP melalui jaringan internet Speedy yang mereka miliki. Setelah saya dalami ada beberapa karakteristik jaringan ADSL yang cukup mempersulit pembangunan jaringan VoIP pada sistem ini yaitu :

- Sistem kerja koneksi ADSL adalah modem / router ADSL melakukan dial up yang kemudian akan direspon oleh RADIUS untuk proses AAA (Authentication, Authorization, dan Accounting) yang akan memberikan IP Publik Dinamis (berubah ketika modem / router melakukan reboot), gateway, serta DNS

- Hanya ada satu IP Publik yang dapat diprovide. Jadi walaupun pelanggan Speedy bisa meminta agar IP Publik yang didapat oleh modem ADSL adalah IP Statik, Speedy tidak dapat menyediakan alamat IP tambahan untuk dipergunakan dibelakang modem tersebut.

Selain itu ada beberapa kendala dari konfigurasi yang ada pada jaringan pelanggan, yaitu :

- Pada modem ADSL mereka telah terdapat firewall praktis yang digunakan untuk memfilter jaringan LAN.

- Model modem ADSL yang dipakai hanya memiliki fitur standar dan tidak memilik fitur routing sama sekali dan bekerja dalam mode standar yaitu NATed LAN.


Dari beberapa poin diatas saya sempat ragu untuk memberikan solusi VoIP bagi mereka, karena jaringan VoIP dengan NAT dikenal cukup sulit dibuat, juga beberapa port yang digunakan dalam jaringan VoIP seperti SIP (5060-5061), dan RTP (dinamis 10000~20000)sangat rentan diblokir maupun tidak dapat terhubung karena proses NAT. Apalagi dengan kondisi jaringan diatas maka SIP Server yang digunakan haruslah berada pada jaringan LAN dengan ip private. Sehingga SIP Server berada dibelakang NAT, SIP User Agent (VoIP Gateway) pun berada pada dibelakang NAT.

Namun setelah berkoordinasi dengan manager dan para senior akhirnya jaringan tersebut berjalan, secara garis besar berikut langkah - langkah yang dilakukan :

1. SIP Server diberikan akses DMZ ke modem ADSL, jadi walaupun diberikan ip LAN yang sama dengan user internet biasa, SIP Server tetap memiliki kelebihan dalam hal fleksibilitas paket data.

2. Port - port yang digunakan seperti SIP (5060-5061), dan RTP (10000~20000) di masukan dalam kategori port forward dan diforward ke IP SIP Server. Kedua konfigurasi ini dilakukan pada modem ADSL, jadi pastikan ada fitur tersebut dalam modem ADSL.

3. Pastikan juga port diatas tidak diblokir oleh firewall.

4. Pada SIP Server, fitur behind NAT diaktifkan dan external IP diumpankan ke IP Publik Statis milik modem ADSL. Karena pengetahuan saya yang terbatas, saya belum menemukan fitur serupa pada SIP Server lain. Namun pada SIP Server yang saya pakai (Micronet SP5211)fitur tersebut cukup praktis dan mudah diaktifkan.

Untuk lebih jelasnya berikut topologi jaringan yang dipakai :



Berikut perangkat yang digunakan
1. SIP Server (Micronet SP5211)
2. FXO VoIP Gateway (Micronet SP5058A)
3. FXS VoIP Gateway (Micronet SP5002)


Read More......

Rabu, 18 Agustus 2010

Dirgahayu Indonesiaku


Karawang-Bekasi ~ Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Tiada kata lain yang pantas untuk dikemukakan pada muka artikel ini selain rasa syukur dan sembah sujud kepada Alloh SWT sebab dengan perkenannya saya dapat merasakan nikmatnya alam kemerdekaan negeri ini. Ya saya sepenuhnya sadar kemerdekaan yang saat ini dirasakan masih dibumbui berbagai hal yang kurang maupun tidak baik, sehingga arti kemerdekaan yang sebenarnya mungkin belum bisa dikecap oleh sebagian orang.

Namun hidup tenang tanpa bising peluru atau ledakan bom saja bagi saya sudah menjadi alasan untuk bersyukur, dibandingkan dengan pemuda-pemudi di negara konflik, cukuplah Indonesia menjadi tempat yang nyaman bagi saya untuk berkembang. Tidak pula saya pungkiri bahwa kenikmatan ini juga saya dapatkan berkat perjuangan para pahlawan yang telah gugur berjuang. Maka dari itu saya sisipkan puisi diatas. Puisi yang ketika saya baca akan membuat air mata saya jatuh tak tertahan. Khususnya ketika renungan suci pada malam 17 Agustus, ya, saya memang menjadi semacam penutur langganan puisi ini pada acara malam 17 Agustus untuk mempersiapkan pasukan pengibar bendera di almamater saya.
Pada malam itu kami akan merenungi makna perjuangan para pahlawan yang telah gugur, dan membayangkan kepedihan dan perjuangan mereka, tak pelak banyak diantara kami menangis. Menangis karena belum banyak yang bisa kami lakukan untuk mengharumkan nama bangsa, menangis karena begitu banyak nikmatNya yang kami rasakan diatas penderitaan mereka, menangis karena begitu banyak pekerjaan yang masih menunggu kami dalam upaya mengisi kemerdekaan.
Ya masih banyak pekerjaan yang menunggu putra - putri negeri ini beraksi, di tengah dekadensi moral, krisis kepemimpinan, dan mosi tidak percaya rakyat, untuk mengembalikan bangsa ini menjadi bangsa yang diridhoi Tuhan YME dan mampu mewujudkan cita - cita bangsa dan membusungkan dada kembali di dunia internasional. Dirgahaya negeriku, semoga Alloh SWT senantiasa melimpahkan rohmat, hidayah, dan maghfirohnya. Amiin




Read More......

Jakarta-Pelabuhan Ratu-Ujung Genteng-Jakarta (3 -Tamat)



Setelah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ujung Genteng, kami segera bergegas menuju Pantai Pangumbahan, sekitar 5 km ke arah barat. Maklum kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melepas tukik (anak penyu, red) yang telah menetas dan secara naluriah langsung menuju ke pantai untuk melanjutkan perjuangan keras mereka disana.

Selama perjalanan kami menjumpai beberapa pondok yang disewakan kepada pengunjung tepat di sisi jalan yang berada di bibir pantai, namun karena ketika itu bertepatan dengan libur nasional, maka hampir dipastikan pondok - pondok tersebut lumayan penuh. Kami bisa melihat banyaknya kendaraan pribadi, baik dua roda maupun empat roda dengan plat B yang telah parkir dengan rapi di halaman pondokan.

Selepas pondok - pondok itu, kami melewati beberapa daerah yang lumayan tandus, sebab hanya semak - semak yang ada di kawasan ini, pohon kelapa pun hanya terlihat satu atau dua batang dengan jarak yang berjauhan, namun karena saat itu matahari tengah beranjak ke peraduan, tetap saja siluetnya menghasilkan pemandangan yang cukup mempesona. Selain itu kami juga menjumpai para Pramuka yang tengah mengadakan acara di sisi pantai, sehingga tak pelak jalan karang dan pasir menuju Pangumbahan penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan dan para pramuka yang hilir mudik antara tempat acara dan perkemahan. Pengemudi kendaraan harus berhati - hati melewati jalan ini karena medan jalan yang bertekstur kasar dipenuhi karang dan pasir serta semak-semak cukup membahayakan bila tidak diwaspadai.

Pukul 16.00 kami tiba di Pangumbahan, setelah mengisi buku tamu dan membayar biaya administrasi (Rp. 5.000/orang) kami putuskan untuk menunaikan Sholat Ashar sebelum beranjak ke pantai. Di komplek penangkaran sendiri terdapat beberapa bangunan, selain kantor administrasi, juga terdapat aula, mushola, kamar mandi dan beberapa pondok kecil. Bangunan - bangunan disini terlihat sudah usang, bahkan terkesan kotor, hanya beberapa pondok kecil saja yang terlihat lebih baik, mungkin karena faktor usia, karena sepertinya bangunan pondok baru dibangun. Namun fasilitas ini sudah cukup nyaman sebab relatif lebih baik dibanding Ujung Genteng yang tidak memiliki fasilitas kamar mandi sehingga harus menyewa kamar mandi self service alias menimba dari sumur di rumah penduduk setempat.

Setelah menunaikan sholat, kami bergegas menuju pantai, karena petugas setempat sudah mengisyaratkan agar kami segera mengikuti prosesi pelepasan tukik. Setelah sampai di tepi pantai, pemandangan yang disuguhkan sungguh luar biasa. Hamparan pasir putih sepanjang 1,3 km tergelar dari sisi kanan hingga jauh disisi kiri kami. Air laut jernih kebiruan berupa ombak yang saling berkejaran sangat kontras dengan warna jingga dari matahari terbenam di ufuk barat.

Di pantai itu, sudah berkumpul beberapa orang yang sama-sama ingin menikmati prosesi pelepasan tukik, kira-kira 30 orang berkerumun disekitar petugas yang membawa sekitar 20 tukik dengan wadah bak plastik. Tak lama kemudian tukik itu pun diletakkan diatas pasir, dan kontan saja semua pengunjung yang hadir tak menyiakan kesempatan untuk berfoto bersama tukik-tukik tersebut, hingga suasana sangat hiruk pikuk. Beberapa tukik pun tak sengaja terinjak, kasihan rasanya. Akhirnya saya pun memilih mengambil jarak dan melihat tukik-tukik itu menghilang dibalik ombak dari kejauhan. Bagi saya lebih baik melihat dan menikmati momen ini dari jauh daripada berusaha berfoto ria namun menyakiti tukik yang dilepaskan.



Pukul 18.00 prosesi selesai dilakukan dan seluruh tukik sudah menghilang ditelan ombak, dan kami putuskan untuk segera kembali ke pantai Ujung Genteng untuk mendirikan tenda disana. Kami mendirikan tenda tepat dibibir pantai Ujung Genteng, disebelah warung tenda penduduk setempat yang lebih dulu berdiri. Sepanjang malam tenda kami diguyur hujan yang cukup lebat, sehingga saya putuskan untuk beristirahat di dalam tenda sepanjang malam, namun beberapa kawan saya menyempatkan diri belanja ke pelelangan ikan setempat dan membuat ikan bakar. Saya pun ditawari untuk bergabung, namun karena lelah dan merasa malas untuk bangun, maka saya putuskan untuk tetap istirahat di dalam tenda hingga pagi.

Ketika saya bangun keesokan paginya, matahari sudah cukup tinggi namun awan mendung yang cukup tebal masih menggayut, hingga saat itu cuaca Ujung Genteng tak secerah kemarin. Tapi karena ini adalah hari terakhir saya berada disana, maka saya sempatkan untuk bergabung bersama kawan-kawan lain yang sudah terlebih dulu bermain di tepi pantai. Beberapa kawan memutuskan unutk berenang tapi saya lebih memilih berjalan-jalan di atas karang yang airnya surut, disana saya menemukan beberapa hewan unik seperti teripang, bulu babi, dan ikan kecil yang berwarna - warni terjebak di cekungan karang yang berair. Karena saya pernah melihat seorang presenter acara petualangan di TV memakan telur bulu babi, saya pun penasaran ingin mencoba hal tersebut, dan saya tangkap seekor bulu babi yang ada, tapi karena saya tak tahu bagaimana membuka cangkang dan menghindari duri beracunnya, akhirnya bulu babi itu saya lepaskan kembali :D.

Setelah 2 jam bermain di tepian karang, saya memutuskan kembali ke tenda. Setelah itu kami sepakat untuk bergegas sarapan dan kembali ke Jakarta. Tepat pukul 11.00 kami memulai perjalanan pulang, dan setelah 10 jam yang basah karena hujan yang tak kunjung berhenti. Pukul 21.00 saya tiba dirumah. (Selesai)





Read More......

Senin, 15 Maret 2010



Samaran

Penat merayap
Lebur mengais sisa asa
Himpitan
Desakan
Teriakan!!!

Tapi semua dalam hati
Bibirku hanya diam
Badanku bergetar

Tapi fikirku menggelora
Menghujam angkasa
kemudian
Menukik kebumi
kemudian
Menghambur dalam kerumunan
Menjelma seorang pujangga ternama
lengkap dengan pengikutnya

Dibelakang
Menunggu atau diburu?
Kaulah yang tahu.






Read More......

Rabu, 17 Februari 2010

Keep On Growing !!!

Wahh, udah bulan Pebruari 2010.......Hmm, gak kerasa udah hampir setaun umur gw berkepala 2, walau masih newbie dengan kepala dua ini, setidaknya gw dah mulai ngerasain rasanya punya tanggung jawab lebih dan bertanggung jawab untuk menjadi dewasa, tentunya karena tuntutan waktu yang terus berjalan tanpa kenal jeda .

Sekedar untuk memflashback apa yang udah gw capai selama gw diberi nyawa oleh sang Khalik, kayaknya masih banyak banget impian dan cita-cita yang belum tercapai. Kalau merujuk pada ayat bahwa usia umat Nabi Muhammad SAW tidak lebih dari 63 tahun, maka insya Alloh bulan depan gw udah menghabiskan 1/3 dari lama usia yang dikaruniakan tersebut.

Disepertiga usia ini gw diperkenalkan dengan beberapa orang yang sangat menarik untuk gw ikuti jalan pikirannya, sampai gw berani bilang gw mengagumi beberapa dari mereka walaupun gak pernah gw utarakan secara langsung ke mereka atau gw kultuskan rasa kagum gw ke mereka, karena gw tau gak ada manusia yang sempurna.

Disepertiga usia ini gw dipertemukan beberapa orang teman yang luar biasa, baik kecerdasan, skill, kebijaksanaan, atau kepribadiannya. Dari mereka gw belajar memahami bahwa manusia memang butuh bantuan manusia lain.

Sepertiga usia yang penuh warna. Mulai warna-warna cerah sampai warna terkeruh yang belum pernah gw bayangkan akan gw dapati di usia ini. Kalo gw rangkum dan meminjam liriknya Hoobastank maka yang gw nyayiin adalah bait "I'm not a perfect person, there's many things i wish i didn't do. But i continue learning", begitu banyak langkah-langkah keliru yang gw sadari maupun gak sadari udah gw lakukan, tapi gw sadar belum dan tidak akan ada kata terlambat untuk mengubah arah dan mengejar langkah-langkah yang sempat tertinggal.

Kebetulan kemarin bongkar kamar, nemu kaset Iwan Fals lama gw yang udah 5 taunan gak gw setel, langsung dah kecantol sama lagu Kupu-Kupu Hitam Putihnya, hmm rasanya adem banget di denger. Memang hidup bisa hitam bisa putih, bisa mendung bisa cerah, tapi masih ada langit cerah dan garis perak diantara mendung yang terhitam sekalipun.

Kalo kata Dee di Filosofi Kopi "Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan". Jadi, asikin aja bos (pake aksen kayak presenter backpacker TvO*e, wkwkwkwk)

Dan gw berharap 2/3 usia gw kedepan akan lebih bermakna dalam hal pengabdian gw kepada Alloh SWT dan membuat gw tetap laik untuk masuk surga-Nya,



Kupu-Kupu Hitam Putih by Iwan Fals




Read More......

Rabu, 10 Februari 2010

Sesal


Sesal


Manakala kata telah habis terbaca,
dan mulutmu bisu
Entah apa warna dunia.

Sedangkan dulu ejawantah itu terasa bias,
dan kau mainkan hidupmu atas ragu,
ketika gendang bertalu-talu,
dan panggung masih tergelar....lebar,
lagi dawai gitar pun masih bergetar.

Namun nanar matamu hanya sebuah nafsu!
Hingga telingamu mengatup.
Rapat...,
lagi kedap
terhadap kidung-kidung suci
yang dilantunkan.
Syahdu...
layaknya nyanyian bidadari-bidadari surga,
yang dulu pernah merindumu.

Read More......

Selasa, 02 Februari 2010

VoIP di Mobile Phone



Sesuai dengan judul diatas, posting ini saya buat berdasarkan pengalaman saya menjalankan VoIP pada handheld GSM yang sudah support WiFi dan wireless IP Phone yang berbentuk seperti handphone. Ujicoba yang saya lakukan menggunakan IP-PBX keluaran Micronet yang didistribusikan oleh kantor saya (iklan gratis, heheheh). IP-PBX ini memiliki dua ethernet port, LAN port yang digunakan untuk meregister client intranet dan WAN port yang digunakan untuk meregister client di jaringan publik. Fitur yang dimiliki juga sudah cukup lengkap, dan IP-PBX ini juga dapat meregister 50 user voip dan menangani concurrent call(banyaknya panggilan yang dilakukan dalam satu waktu secara simultan, red) sebanyak 13 panggilan.

Tipe handheld yang saya pakai adalah UTStarcomm F1000 (wireless ip phone), HTC Touch (smart phone dengan wifi dan OS Windows Mobile 6), serta Nokia E63 (qwerty phone dengan wifi dan OS Symbian 9.2) yang bisa dilihat pada gambar sebagai berikut.



Softphone yang saya pakai pada HTC Touch adalah portSIP untuk Windows Mobile 6 yang dapat diunduh disini, sedangkan pada E63 saya gunakan tiviPhone versi gratis yang dapat diunduh disini. Setting ketiga handheld ini cukup mudah, pertama setting WiFi pada masing-masing handheld ke access point yang terhubung dengan IP-PBX, untuk wireless ip phone bisa di-set DHCP atau statis, sedangkan pada dua handheld lain cukup cari access point dan ip sudah didapat dari DHCP server. Kedua, masuk ke konfigurasi VoIP yang ada pada masing-masing softphone yang ada dan set proxy server ip address ke alamat ip dari IP-PBX. Ketiga, set username dan password untuk registrasi sesuai dengan alokasi username dan password, biasanya username adalah nomor ekstensi VoIP untuk memudahkan login. Calling via VoIP siap dilakukan.

Note : Untuk Nokia E63 sebenarnya sudah ada SIP setting bawaan dari vendor namun entah kenapa saya selalu gagal untuk melakukan registrasi, selain itu opsi yang terlalu banyak membuat saya kurang nyaman untuk melakukan setting jadi saya putuskan untuk memakai third party software yang mudah digunakan untuk handheld ini.





Read More......